keterlaluan
“Konon, sosiolog AS Peter L Berger menyatakan : ‘Abad ke-21, penganut agama meringkuk dalam sekte-sekte kecil, kepayahan melawan budaya sekuler di seluruh dunia’. Apakah sindiran nitizen : Jika sudah tidak percaya dan mengingkari ajaran kitab suci, sama dengan murtad; mengapa tidak sekalian pindah agama, sebagai pembenaran tesis Berger?” 
 
Sebelum ada televisi, menjelang tidur, para orang tua zaman dulu selalu bercerita kepada anak-anaknya. Cerita untuk membentuk karakter dan harapan orang tua kepada anak-anaknya. Terkait kehidupan agar anaknya setelah dewasa bisa memilih dan menghormati kehidupan, salah satu cerita adalah tentang 4 profesi utama sebagai pilar negara. 
 
Keempat profesi tersebut adalah petani, guru, pemimpin agama dan tentara. Pendapat orang tua tersebut cukup logis. Petani memberi makan, agar rakyat hidup. Guru memberi pengetahuan agar pintar dan cerdas. Pemimpin agama membangun moral untuk dunia akhirat, agar tidak tersesat. Tentara untuk menghadapi ancaman dan serangan musuh, agar tidak dijajah.
 
Ketika hiruk pikuk Pilkada DKI bersentuhan dengan agama, terjadilah macam-macam persepsi terkait agama. Tuntutan keadilan terhadap dugaan penistaan agama, banjirlah komentar dengan stigma  intoleran. Menjalankan perintah agama sesuai kitab suci diberi stigma kelompok garis keras yang radikal. Pilkada yang jelas memilih Pemimpin Pemerintahan, diplesetkan dengan sinisme bukan memilih Pemimpin Agama. Paling aneh, agama dan politik pun dipersoalkan. 
 
Dalam kehidupan manusia, agama dan Pemimpin Agama sangatlah penting. Termasuk kegiatan Pilkada sangat  membutuhkan agama, Pemimpin Agama dan bagaimana implementasi ajaran agama dalam Pilkada. Pikada sebagai kegiatan politik tentu akan bermakna sekali jika dilandasi nilai-nilai agama yang diberikan para Pemimpin Agama dan Pemuka Agama. Sehingga politik menjadi ‘politik suci’ dan bukan ‘politik kotor menghalalkan segala cara’.
 
Politik yang didasari nilai-nilai agama adalah tuntutan dasar falsafah bangsa Indonesia, Pancasila. Meninggalkan agama dalam berpolitik akan tumbuh politik sekuler. Konon, sosiolog AS, Peter L Berger yang mengatakan ‘Abad ke-21, penganut agama meringkuk dalam sekte-sekte kecil, kepayahan melawan budaya sekuler di seluruh dunia’. Akankah kita akan ikut genderang tesis Berger?
 
Agama dan Kitab Suci
 
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, agama adalah kepercayaan kepada Tuhan, sifat-sifat dan kekuasaan Nya dengan ajaran dan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan kepercayaan itu. Ajaran dan kewajiban bagi pemeluknya ada di dalam Kitab Suci. Di dalam Islam dikenal ada 4 Kitab Suci yang diturunkan oleh Allah.
 
Kitab Taurat, berisi syariat dan kepercayaan yang diturunkan melalui Nabi Musa dengan bahasa Ibrani. Isi pokok Taurat adalah 10 Firman Allah bagi bangsa Israel. Kitab Zabur, berisi mazmur atau pujian bagi Allah, diturunkan melalui Nabi Daud dengan bahasa Qibti. Kitab ini juga berisi syariat meneruskan yang telah dibawa Nabi Musa. Kitab Injil, pertama ditulis murid Nabi Isa dengan bahasa Suryani,  sebagai penggenap yang dibawa Nabi Musa. Kitab Al Quran merupakan kumpulan Firman Allah SWT, diturunkan melalui Nabi Muhammad saw dengan bahasa Arab.
 
Di Indonesia, ada 6 umat beragama. Masing-masing umat memiliki kitab. Umat Buddha kitab sucinya Tripitaka. Umat Hindu kitab sucinya Weda biasa disebut Catur Weda yaitu Regweda, Yajurweda, Samaweda dan Atharwaweda. Umat Islam kitab sucinya Al Quran. Umat Kong Hu Chu kitab sucinya Wu Jing, Si Shu dan Xiao Jing. Umat Kristen kitab sucinya Alkitab, ada 66 Kitab terdiri 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 Perjanjian Baru. Umat Katolik kitab sucinya Alkitab Deuterokanika, ada  72 Kitab terdiri 45 kitab Perjanjian Lama dan 27 Perjanjian Baru.
 
Bagi umat pemilik kitab suci jelas berkeyakinan isinya baik, karena itulah ada pemahaman semua agama itu baik bagi pemeluknya. Mereka harus melakukan atau meninggalkan apa saja yang diperintahkan Tuhan.  Ajaran isi kitab suci tersebut diajarkan oleh Pemimpin Agama atau Pemuka Agama, demi kebaikan umat.
Pemimpin Agama dan Pemuka Agama
 
Pemuka Agama adalah orang yang karena pengetahuan dan kontribusinya dalam agama, oleh masyarakat pemeluk agama tersebut dijadikan panutan dalam kehidupan. Dalam Islam ada Ulama, Kyai, Ustadz. Dalam Katolik ada Pastur, Romo, Biarawan/wati. Dalam Kristen ada Pendeta dan Biarawan/wati. Dalam Buddha ada Bhiksu dan Bante. Dalam Hindu ada Pedanda dan Pandita. Dalam Kong Hu Chu ada Jiao Sheng, Wen Shi dan Xue Shi.
 
Pemimpin Agama adalah orang yang dipercaya dan diangkat oleh sekelompok pemuka agama sebagai pemimpin mereka. Umumnya pengangkatan tersebut berdasarkan ilmu yang bersangkutan tentang agamanya, kontribusi dan pengabdiannya kepada umat terkait agamanya. Dalam Islam disebut Khalifah, dalam Katolik disebut Paus dan dalam Buddha disebut Dalai Lama. 
 
Apabila ajaran dalam kitab suci tidak dipakai sebagai pedoman hidup oleh pemeluknya, orang tersebut disebut murtad. Di Islam, jika mengaku Islam tetapi menggadaikan ajaran Al Quran, disebut munafiqun. Model seperti inilah yang dikritisi para nitizen, jika sudah tidak percaya dan mengingkari ajaran kitab sucinya, mengapa tidak sekalian pindah agama. Tampaknya para nitizen merasa sudah ada gejala yang mengecilkan nilai agama yang menjurus ke sekulerisasi.
 
Dalam agama apapun, apabila orang ingkar atas ajaran agamanya pantas disebut murtad. Agar orang tidak murtad, kewajiban Pemimpin Agama dan Pemuka Agama ketika berkhotbah dihadapan umatnya, mengajarkan isi kitab suci. Mengutip Firman Tuhan dalam kitab suci untuk disampaikan kepada umatnya tidak bisa dilarang, karena itu penguatan iman kepada umatnya. Di Indonesia, justru merupakan implementasi dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
 
Tanpa ikut campurnya pemerintah secara represif, masyarakat bisa menseleksi pemimpin agama mana yang bener dan yang asal-asalan. Percaya atau tidak, Tuhan pun akan ikut campur bila Firman Nya dipermainkan. Konon, dalam sidang dugaan penistaan agama oleh Ahok, ada saksi yang terbongkar memalsukan identitas. Belum pernah haji dan belum doktor, tetapi pakai gelar doktor dan haji. Itulah kekuasaan Allah SWT.
 
Bisa jadi orang yang alergi agama dalam Pilkada adalah atheis atau pengikut Karl Marx dan tokoh Komunis Indonesia DN Aidit, atau pengikut aliran sekuler. Hanya pemilik moral Pancasilais yang meyakini agama dan pemimpin agama sangat penting untuk terselenggaranya Pilkada yang Luber dan Jurdil. Tanpa dilandasi nila-nilai agama, maka Pilkada akan menjadi ajang kemungkaran yang melahirkan kehancuran. 
Agama versus Kecurangan
 
Dalam ilmu tentara ada yang disebut dengan Prakiraan Intelijen, suatu upaya untuk mengetahui kondisi cuaca, medan dan musuh. Tanpa bermaksud menuduh, dalam Pilkadapun bisa diprakirakan kecurangan yang mungkin terjadi. Timses pasti bisa melihat peluang untuk curang. Pengetahuan curang yang diketahui apakah akan diaplikasikan, ataukah hanya untuk melawan kecurangan, tergantung keteguhan beragamanya. 
 
Bentuk kecurangan yang dimungkinkan terjadi antara lain, membeli suara orang-orang miskin dan lansia, baik dengan memberi uang secara tersembunyi atau sembako. Memalsukan identitas untuk bisa nyoblos dua kali dengan menyiapkan administrasi bodong dan cairan penghapus tinta tanda sudah nyoblos. Memainkan mesin IT penghitung suara, membeli petugas untuk diajak curang, dan lain sebagainya.
 
Kecurangan untuk mendapatkan suara agar menang jelas sangat bertentangan dengan ajaran agama, dan kejahatan politik yang bisa dipidana. Teori demokrasi pun tidak menganjurkan menang dengan cara curang. Undang-undang pun mencantumkan azas Luber Jurdil. Kecurangan bisa dicegah jika ada nilai-nilai agama yang selalu ditekankan oleh para penyelenggara negara. Di sisi lain, disinilah peran pemimpin dan pemuka agama untuk mengingatkannya.   
Rekomendasi
 
Persoalan surga dan neraka memang persoalan masa depan setelah hari kiamat, dan tidak terlihat mata. Persoalan duit jutaan sampai ratusan milyar bahkan trilyun, tergantung kelas sosialnya, sangatlah dekat dan terlihat mata. Di sinilah peran para pemimpin dan pemuka agama untuk mengingatkan umatnya, termasuk diri sendiri agar tidak menjual diri.
 
Agar Pilkada Luber Jurdil, ada beberapa atensi, antara lain :
1. Masing-masing pemimpin agama, pemuka agama  dan  tokoh  agama,  hendaknya  memberikan contoh atas konsistensinya terhadap ajaran agama sebagaimana kitab sucinya. Mengajarkan hidup toleransi dan saling menghormati antar umat beragama, seperti yang dicontohkan toleransi umat Islam yang menghormati sepasang mempelai non Islam yang menikah di Gereja Katedral, tatkala Aksi Bela Islam.
 
2. Secara umum, baik kepada rakyat dan penyelenggara Pilkada, para pemuka agama harus selalu mengingatkan bahwa apa yang mereka lakukan, apakah baik atau kecurangan, akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. 
 
3. Masing-masing pemuka agama bener-bener membina umatnya berdasarkan kitab suci masing-masing. Andaikan toh  mengarahkan memilih kandidat, bisa menyampaikan kriteria sosok pemimpin seperti apa yang sesuai ajaran kitab sucinya, secara baik-baik tanpa polesan, tanpa manipulasi dan tendensius. 
 
4. Bagi umat, harus harus hati-hati memilih pemuka agama yang mana dirinya harus ikuti, sebab konsekuensi dari kekeliruan memilih, dirinyalah yang akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Di sisi lain, harus menghindari konflik antar umat beragama, karena Pilkada itu hanya memilih pemimpin pemerintahan.
Semoga Pilkada DKI pada putaran ke-2, terlaksana dengan dasar nilai-nilai agama. Andaikan ada kecurangan yang direncanakan, kiranya akan sirna dengan doa-doa para umat yang mendambakan kejujuran dan keadilan, sehingga aman. Insya Allah. Amiin. (*)
 
Oleh: 
Prijanto, Mantan Wakil Gubernur DKI 2007-2012