keterlaluan
Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diwakili Kasubdit Barang dan Kemasan Direktorat Pengolahan Sampah, Ujang Solihin Sidik, mengunjungi Bank Sampah Induk (BSI) yang terletak di Asrama Dinas Kebersihan, Cengkareng Barat, Jakarta Barat. 
 
Dalam kunjungan itu, Ujang mengatakan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendukung pengolahan sampah, khususnya sampah kemasan. "Selama ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga ikut mendorong produsen atau perusahaan yang menghasilkan produk kemasan agar ikut mengurangi sampah," katanya, Jumat (15/09/2017). 
 
Dijelaskan Ujang, ada tiga cara untuk mengurangi sampah kemasan yang kemudian bisa di daur ulang. Yang pertama dari pemulung, kedua dengan menyediakan bank sampah dan yang ketiga dengan sistem dropbox, yaitu mengumpulkan bekas produk kemasan di beberapa supermarket atau minimarket. 
 
Dengan begitu, jika masyarakat ingin mengumpulkan sampah kemasan tak perlu lagi repot. "Persoalan sampah bukan hanya tanggungjawab pemerintah, tapi juga masyarakat dan produsen. Oleh karena itu, bank sampah harus dimanfaatkan sebaik-baiknya," ujar Ujang.
 
Dirinya juga mengapresiasi bank sampah yang ada di Jakarta Barat, karena baru satu-satunya ada di Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya juga terus berupaya agar setiap kota memiliki satu bank sampah, seperti yang ada di Jakarta Barat.
 
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (Kasudin LH) Jakarta Barat, Edy Mulyanto menambahkan, omzet Bank Sampah Induk Jakarta Barat terus meningkat. Sejak awal diluncurkan hingga saat ini, omzet bank sampah itu mencapai hingga Rp 398 juta.
 
Dia mengatakan, operasional bank sampah yang diberi nama "Sampah Induk Satu Hati" tersebut dapat berjalan baik karena bekerja sama dengan Sudin LH Jakbar, PT Danone dan Bank Negara Indonesia (BNI).
 
"PT Danone yang membeli sampah-sampah plastik dengan harga di atas harga pasar, lalu Bank BNI membantu kami dalam digalakkannya program 'Ayo Menabung dengan Sampah'" ucap Edy. Dirinya semakin optimistis kinerja bank sampah di Jakarta semakin meningkat, sebab bank BNI itu menyediakan sistem untuk memfasilitasi warga menjadi nasabah bank sampah. 
 
Sejauh ini, kata dia, sudah ada 116 bank sampah unit di wilayah Jakarta Barat yang tersebar di 8 kecamatan dan 5 bank sampah sekolah di Jakarta Barat. Dia berharap, di setiap RW atau kelurahan akan ada bank sampah unit. 
 
"Masyarakat Jakarta Barat dapat turut andil dalam usaha mengurangi sampah. Cukup membawa sampah anorganiknya ke bank sampah unit dan melakukan penimbangan. Nanti petugas akan membantu mencatat berat dan nilai sampah di sebuah aplikasi online. Hasil penjualan dapat langsung masuk ke rekening tabungan BNI," lanjutnya.
 
Sementara itu, Senior Sustainable Development Danone Aqua Arief Fatullah mengatakan, pihaknya menyadari bahwa produk yang dihasilkan mereka menghasilkan sampah. Sehingga, perusahaan berusaha untuk mendukung penyelesaian sampah di Indonesia. "Kami ingin menarik sampah kami untuk didaur ulang," ujarnya.
 
Selain itu, Aqua sudah memberikan bantuan awal kepada 37 bank sampah unit yang menjadi Agen46. Sebelumnya, Aqua juga tela melakukan pendampingan kepada pengurus Bank sampah Induk Satu Hati Jakarta Barat dan membeli botol plastik melalui Recycling Bussiness Unit (RBU).
 
 
"Total ada lima lokasi RBU kami di Indonesia. Kami juga bekerja sama dengan 9.000 lebih pemulung," kata Arif.