Pameran Karikatur "Gitu Aja Kok Repot" Mejeng di Bundaran HI

FOTO : Pameran Karikatur "Gitu Aja Kok Repot", Politik Mesem, Adem Ayem digelar dimomen Car Free Day halaman Pos Polisi Bundaran HI Jakarta. Minggu (24/9/23). 

Puji Harpa

Jakarta, HARIANRAKYAT -- Sama seperti pameran yang telah dilaksanakan terlebih dahulu dibeberapa kota di Indonesia seperti Samarinda, Batam, Medan, Pekanbaru, Pontianak, Surabaya, Bandung dan Jambi, Pameran Karikatur "Gitu Aja Kok Repot", Politik Mesem, Adem Ayem kembali digelar dimomen Car Free Day halaman Pos Polisi Bundaran HI Jakarta. Minggu (24/9/23). 

Pameran yang berlangsung sejak bulan agustus, pameran di Bundaran HI ini juga menampilkan karikatur dan kartun karya dari maestro seniman Karikatur dan kartun Indonesia, seperti, GM Sudarta, Pramono R Pramoedjo, Itok Isdiyanto, Thomas Lionar, Non-o (Sudi Purwono), Anwar Rosyid, dan Gatot Eko Cahyono (Gatote).

“Gitu aja kok repot” merupakan anekdot dari Gusdur yang memiliki makna (bukan menggampangkan, tapi membuat segala sesuatu menjadi damai dan menjadi tenang tanpa mengesampingkan esensi politik di Indonesia). 

Berdasarkan anekdot tersebut, maka digelarlah Pameran Karikatur yang di inisiasi oleh Sespim Lemdiklat Polri, dan diselenggarakan oleh Peserta Didik Sespimmen Sespim Lemdiklat Polri Dikreg-63 T.A 2023 yang terdiri dari Kompol Akta Wijaya Pramasakti, S.H, S.I.K, M.Si , Kompol Dr. Supriyanto, S.H, S.I.K, M.Si, Kompol Febri Nurzam, S.I.K, M.Si, Kompol Suria Miftah, S.H, S.I.K, M.I.K, Kompol Arninsi, S.H, S.I.K, M.Si, Kompol Rizka Apriani, S.H, S.I.K, dan Kompol Dany Rimawan, S.H, S.I.K, M.Si, sebagai bentuk cooling system memasuki tahun politik. 

Dengan kartun dan karikatur yang menyentil nuansa politik, memancing senyum bagi siapapun yang melihat. Tentunya kita berharap pameran ini membuat politik di indonesia menjadi sejuk dan makin meperkuat persatuan dan kesatuan.

Kasespim Lemdiklat Polri Irjen Pol Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si., menyampaikan, di tahun politik, situasi dan suasana memanas perlu ada pendingin membuat mesem, adem ayem. 

"Pemilu merupakan pesta kebudayaan dan ikon peradaban dalam suksesi kepemimpinan. Kartunis Non O (Sudi Purwono, Gatot Eko Cahyono, Anwar Rosyid, pelukis Joko Kisworo bersama saya berbincang bincang menyikapi soal tahun politik yang memanas. Perseteruan di media sosial semakin menggelinding bagai bola salju yang menabrak ke mana-mana. Kartun dan dan karikatur kami bahas untuk penyejuk suasana yang nampaknya mulai nggege mongso” jelasnya.

Selaku perwakilan penyelenggara, Serdik sespimmen Dikreg-63 T.A 2023 Kompol Akta Wijaya Pramasakti, S.H, S.I.K, mengatakan, kami Serdik Sespimmen Dikreg ke-63 tentunya mengucap puji syukur Alhamdulillah bisa melaksanakan kegiatan Art Policing dengan tajuk “Gitu Aja Kok Repot” ini, karena kami sadari, ini merupakan model Cooling System menjelang pesta demokrasi yg memberi efek ‘menyejukkan’ dalam rangka membangun Pemilu Damai di tengah masyarakat. 

"Inipun menjadi model pembelajaran tersendiri bagi kami Serdik Sespimmen, untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebagai kader Polri harapan masyarakat nantinya setelah selesai melaksanakan pendidikan di Sespimmen Lemdiklat Polri, Amin” ujarnya.

Konsep dalam karya editorial kartun yang harus mampu menyampaikan pesan, saran, teguran, respon terhadap situasi ini sekaligus merekam situasi dan kondisi yang membutuhkan waktu untuk diselesaikan. Maka kecerdasan sang karikaturis terlihat pada ide teknik dan kritik tegas namun tetap pada koridor yang humanis dalam penyampaiannya. Yang dikritik tidak marah walau kuping atau wajahnya memerah namun tetap diikuti senyuman bahkan bisa tertawa lebar. Dampaknya ada penyadaran dan transformasi kebaikan dan kebenaran.

Sementara itu, Seniman Anwar Rosyid, menyebut, Pemilu sebagai fenomena  bernegara yang berdaulat wajib kita laksanakan dengan tentram dan berkwalitas dengan menjaga keragaman agama ,budaya dan moralitas. 

"Perlu disikapi dengan kewajaran dalam 'berkompetisi ' antar partai dan koalisi partai yang ada .Dengan karya2 'seni ' kartun yang dipertontonkan ini bisa menghibur dan menambah kwalitas 'berdemokrasi” kata Anwar Rosyid.

Senada dengan Anwar Rosyid, Seniman Itok Isdianto mengatakan, konsep dalam karya editorial kartun yang harus mampu menyampaikan pesan, saran, teguran, respon terhadap situasi ini sekaligus merekam situasi dan kondisi yang membutuhkan waktu untuk diselesaikan. 

"Terlebih yang menyentuh masalah ketidak adilan, ketidak pedulian, kesewenang-wenangan, korupsi, dan hal yang mencederai masyarakat dari masa ke masa dengan tetap memberi ruang untuk penyadaran dan juga kesabaran bagi masyarakat yang terdampak dan dirugikan” jelasnya.

Sementara itu, kartunis Non-O S Purwono menyebut, kartun mencairkan suasana yang kaku menjadi lebih ringan dan cair, penuh HUMOR tanpa menimbulkan ketersinggungan pihak manapun, tentu saja tetap dengan sisipan kritik yang membangun dan humor-humor yang gampang mengundang senyum. 

Meski demikian, menurutnya, kartun bukanlah sekadar gambar orek-orekan yang ngasal jadi dan awur-awuran, ia adalah buah cipta yang sangat SERIUS dari pemikiran yang dalam, perenungan dan pertimbangan panjang dari seorang kartunis. 

"Gagasan/ide  sebagai hasil akhir itu memerlukan dialektika pergulatan pikiran yang panjang dan menguras enerji, wal hasil lahirlah buah karya kartun yang sederhana, lucu, simbolis dan terencana” urainya.

Selain penjelasan yang telah diberikan oleh para seniman, Gatot Eko Cahyono (Gatote) menyampaikan harapannya, “Semoga pameran karikatur "Gitu Aja kok Repot, politik mesem, adem ayem " menjadi sebuah oase yang menyejukkan dan menyegarkan di tahun politik yang suhunya semakin panas ini.” tandasnya.



www.harianrakyat.com
Redaksi | Disclaimer | Dewan Pers