Oleh: Djono W. Oesman

Korban serial killer Bekasi, Neng Ayu Susilawati (5) selamat dari racun. Sang ayah, Wowon (60), dipenjara. Ibunda Maemunah (40) tewas diracun Wowon Cs. Adik Neng Ayu, Bayu (2) tewas dibunuh Wowon juga. Ayu kini sendirian.
-----------

Nasib Ayu kini jadi perhatian polisi. Dia masih dirawat di RSUD Bantar Gebang, Bekasi. Tapi, sudah didamping tim dari KPAD (Komisi Perlindungan Anak Daerah) Bekasi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko kepada wartawan, Selasa, 24 Januari 2023 mengatakan: "Kasihan anak itu. Sekarang diawasi KPAD Bekasi."

Tapi, polisi ikut mengawasi Ayu. Dikhawatirkan, masih ada komplotan Wowon Cs yang belum terungkap. Ayu dicoba dibunuh dengan racun oleh Dede Solehudin (paman Ayu sendiri). Karena, berdasar pengakuan tersangka ke polisi, jadi saksi kejahatan serial killer.

Alasan tersangka ini mengherankan polisi. Ayu masih balita. Bahkan, adik Ayu, bernama Bayu malah bayi dua tahun, juga dibunuh tersangka Solihin pada Oktober tahun lalu.

Alasan tersangka membunuh balita, dinilai polisi kurang logis. Anak kecil tidak mungkin mampu bersaksi penipuan trio dukun Wowon-Solihin-Dede. Apalagi jadi saksi pembunuhan para korban (total sembilan korban tewas). Mungkin, trio tersangka bersikap ekstra hati-hati agar sama sekali tak ada saksi.

Ayu bisa dipastikan terguncang. Cuma, dia belum bisa mengungkapkan perasaan

Spencer Eth dan Robert L. Pynoos dalam buku mereka bertajuk: "Post-traumatic stress disorder in children (1985) menyebutkan, anak yang tahu pembunuhan antar orang tua, baik saat kejadian pembunuhan maupun beberapa tahun sesudahnya, dipastikan mengalami PTSD (Post-traumatic Stress Disorder).

Itu gangguan jiwa tergolong berat. Berdampak merusak buat hidup anak di kemudian hari. Dan, anak di usia sepuluh tahun ke bawah, belum bisa mengungkapkan keguncangan jiwa yang dialami.

Dampak bisa direduksi jika anak diterapi psikiater dengan benar, dan dalam tempo lama. Psikiaternya harus berpengalaman menangani pasien PTSD bidang pembunuhan dalam keluarga.

Ada banyak penyebab PTSD pada anak. Bisa akibat pengabaian ortu, atau korban kekerasan baik oleh ortu maupun orang lain, atau korban pelecehan oleh ortu atau orang lain, atau ditinggal mati ortu. Dan, akibat pembunuhan ortu oleh orang lain. Paling sulit ditangani, akibat pembunuhan dalam keluarga, seperti dialami Neng Ayu.

Buku karya Eth dan Pynoos itu terkenal di Amerika Serikat (AS). Best seller. Dimuat di berbagai media massa di sana, pada zamannya.

Los Angeles Times, 5 Oktober 1985, memuat dengan judul "Shock Haunts Children Who See Parent’s Slaying". Ditulis Reporter Ann W. O'Neill.

Di situ diulas, betapa sulit menangani PTSD anak akibat pembunuhan dalam keluarga. Bahkan, oleh tim psikiater sekali pun. Di AS, yang gudangnya ilmuwan.

Para psikiater sering gagal menangani pasien jenis ini, sebab pasien memendam rasa. Menutup luka hati. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Atau, seolah-olah pasien sudah sembuh dari luka dalam jiwa, PTSD. Namun ternyata beberapa tahun kemudian dampak PTSD pasien meledak dalam emosi berlebihan.

Los Angeles Times memuat riset, di Los Angeles saja, ada 200 anak per tahun menyaksikan pembunuhan orang tua pada 1994. Itu gabungan pembunuhan ortu oleh orang lain dan pembunuhan dalam keluarga.

Eth dan Pynoos dalam buku mereka itu, juga hasil riset. Terhadap 55 anak dan remaja usia mulai 3 sampai 17 tahun. Mereka pengidap PTSD akibat pembunuhan ortu. Meeka juga diterapi tim psikiater dalam tempo lama.

Hasil riset, Eth dan Pynoos kaget, bahwa luka jiwa PTSD mereka belum sembuh, meski sudah diterapi intensif dalam tempo dua-tiga tahun. Penyebabnya: “Bidang eksplorasi psikiatri yang relatif kurang dilaporkan.”

Disebutkan, anak trauma menyaksikan orang tua meninggal dengan kekerasan, memicu ketidakberdayaan yang luar biasa. Juga ingatan berkepanjangan tentang saat-saat paling kejam yang mereka lihat atau dengar di kemudian hari.

Setelah diteliti mendalam, di otak anak-anak itu masih menyimpan potongan-potongan memori tentang kejadian yang mereka lihat atau dengar, terkait pembunhan ortu mereka. Potongan memori itu hidup bagai film di otak mereka.

Digambarkan: "Misalnya, ingatan tentang bunyi jatuhnya pisau pembunuh ortu mereka. Atau suara tembakan yang mematikan ortu mereka. Atau percikan darah. Kenangan ini sulit hilang di memori otak mereka."

Mereka menyimpan detil potongan kejadian yang membuat mereka menderita PTSD. Mungkin, itu akan tersimpan di otak, seumur hidup mereka.

Tapi, perilaku mereka tampak normal. Seperti tidak ada bekas luka pada jiwa. Mereka tidak pernah mengeluh, atau mengungkapkan trauma itu.

Tampilan korban itu memperumit masalah buat psikiater. Kenyataan, bahwa anak-anak jarang berbicara tentang kengerian yang mereka saksikan, justru membikin psikiater salah prediksi. Dikira pasien sudah sembuh, ternyata masih parah.

Untuk memperkuat teori Eth dan Pynoos, dikutip dari The Washington Post, 17 Agustus 2016, bertajuk: "This is what it does to them?", diungkap suatu kejadinya nyata.Terjadi pada 27 Februari 2016 di Chicago, AS.

Sebuah mobil sedan Chevy berisi sekeluarga. Erick Henry (ayah), Kashe Jaranilla (ibu). Serta dua anak mereka, Kaniya (7) dan adik laki laki usia delapan bulan, bernama Eman.

Mobil sedang parkir di tepi jalan, di dekat apartemen mereka di Chicago. Poisi duduk: Ayah menyetir, ibu di sebelahnya. Anak-anak di jok belakang.

Mendadak, terdengar rentetan tembakan. Kaniya menggambarkan, bunyi letusan sangat keras beberapa kali. Kaniya mendengar kaca mobil hancur berhamburan dalam kabin mobil. Kaniya seketika menundukkan kepala.

Setelah rentetan tembakan berhenti, Kaniya melihat ayah ibu berdarah-darah. Muncrat di seantero kabin. Ayah sudah tak bergerak. Ibu masih bisa merintih.

Kaniya melihat wajah ibu sangat beda dari biasanya. Karena, rahang Kashe Jaranilla kena tembakan. Jadi peyang tak simetris. Hampirdia tidak mengenali wajah ibu yang penuh darah.

Kaniya mengguncang-guncang tubuh Erick. Tapi tubuh Erick lunglai tertahan sabuk pengaman. Tak bergerak lagi. "Mom... Dad...," teriak Kaniya sekencangnya.

Tak lama, orang berkerumun menolong keluarga itu. Dilarikan ke RS. Erick tewas seketika, Kashe Jaranilla bisa diselamatkan. Tetap hidup tapi cacat di bagian rahang.

Maka, Kaniya dan Eman dirawat psikiater. Dinyatakan menderita PTSD.

Dalam perawatan beberapa bulan, Kaniya dinyatakan sembuh dari trauma. Karena, Kaniya tidak menunjukkan tanda-tanda murung, atau sedih berlebihan, atau emosi yang menggebu. Sama sekali tidak. Kaniya malah jadi pemain basket dan jago main biola.

Karena itu adalah liputan media massa, bukan suatu riset, tidak tergambarkan, apakah Kaniya benar-benar sembuh dari PTSD, ataukah bagaimana?

Penulis Eth menyebut anak pengidap PTSD sebagai: "Konspirasi diam, untuk tidak membicarakan peristiwa buruk."

Sehingga, orang dewasa menafsirkan kebisuan anak dalam menghadapi trauma, sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Dinilai sebagai cerminan dari ketahanan anak-anak yang sangat dibanggakan. Padahal, kebanyakan itu berarti sebaliknya.

Lantas, apa dampak jika anak-anak PTSD itu masih trauma?

Belum ada riset jangka panjang yang meneliti korban PTSD dari anak sampai dewasa. Belum ada.

Tapi, dalam perspektif sebaliknya, ilmuwan psikologi meneliti latar belakang para penjahat, terutama penjahat psikopat yang tanpa empati sosial, pembunuh berdarah dingin, pembunuh berantai, dan kejahatan berat lainnya. Mayoritas penjahat itu adalah pengidap PTSD di masa kecil.

Dalam kasus serial killer Bekasi, meujuk teori Eth dan Pynoos, korban Neng Ayu bakal mengingat kejadian keracunan itu seumur hidup. Terngiang di memori otak.

Dampaknya, kelak setelah dia dewasa, bisa negatif. Bahkan bisa jadi pelaku serial killer pula. Ini 'kan jadi ruwet. Ayah tersangka serial killer, anaknya menderita PTSD dengan risiko seperti itu. (*)



www.harianrakyat.com
Redaksi | Disclaimer | Dewan Pers